Aulia Izzatun Nisa

Di tengah ramainya jalan kota, di depan madrasah, Mas Nuri selalu setia menjaga lalu lintas jalan. Dari pekerjannya itu dia mendapat upah/gaji meski tak banyak, namun selalu ia sisihkan untuk menabung dan mewujudkan impiannya yaitu bisa membuat orang tuanya naik haji. Suka dan duka telah ia lalui selama 3,5 tahun bekerja.
Sayangnya, pekerjaan itu tidak didukung oleh keluarganya. Adiknya malu karena kakaknya hanya bekerja sebagai pak ogah, tapi selagi pekerjaannya halal, buat apa malu.
Di pagi itu, dia sudah bersiap untuk berangkat kerja, tapi ternyata tiba – tiba adiknya jatuh sakit. Dia terpaksa mengambil uang tabungan yang sudah ia kumpulkan selama 3 tahun. Tapi demi adiknya, apa saja akan dia lakukan.
Seminggu kemudian, Mas Nuri kembali bekerja seperti biasa, Adiknya juga sudah mulai mendingan, meski harapannya sempat pupus.
Saat sedang beristirahat dia mendapat telfon dari nomor yang tak ia kenal. Inti dari telfon itu “Mas Nuri naik pangkat” apa maksudnya? Mas Nuri naik pangkat menjadi satpam. kenapa tiba tiba?
Ternyata, pemilik rumah sakit tempat adiknya dirawat tahu, Mas Nuri rela mengambil uang tabungan untuk membayar biaya rawat inap adiknya. Mas Nuri orang baik.
Meski gajinya sekarang juga tidak terlalu besar, tapi ia sekarang bisa menabung lebih banyak sedikit demi sedikit untuk mewujudkan impiannya.
Penulis, murid Kelas 7D SBS, Kecabangan Sastra Indonesia
